Sehelai Kartu untuk semua
Ya
keadaan terpojok pada tahun tersebut sulit sangat tidak menyenangkan. Hampir
semua rekan perkulihan pada jenjang strata 1 sudah selesai melaksanakan
persyaratan studi yaitu persyaratan internship dengan hasil pelaporan seperti
penelitian atau lainnya kepada jurusan. Tahun 2014 masuk pada semester 6 yang
hanya saya seorang diri harus menyelesaikan persyaratan kelulusan dan
perjalanan ke negeri orang pun terjadi. Ya hanya seorang diri dan petualangan
pun terjadi.
Beberapa
tahun sebelumnya, program-program untuk dapat memenuhi persyaratan sebagai bagian
dari Internship telah saya cari dari internet. Hasil ditemukan dan memutuskan
untuk mengambil summer course yang ada pada Singapore dan pelatihan penelitian yang diselenggarakan oleh NUS. Dari institusi itu saya dipanggil oleh ketua jurusan
untuk keseriusan dalam mengambil course tersebut dan akhirnya saya mendapat
izin untuk diperbolehkan menjalin hubungan kerja sama antar unversitas dan pengiriman mahasiswa. Pada saat itu
merupakan pertama kalinya saya pergi ke luar negeri, sekaligus ke negeri yang
telah maju. Atas izin dari ketua jurusan menugaskan saya untuk dapat mengamati, improvisasi
diri dengan melihat dunia luar yang telah maju dari sistem perekonomian maupun
sistem keuangan secara keseluruhan. Jadi agenda pada saar itu ialah
studi banding melihat perbedaan-perbedaan kondisi di dua negara dari segi
budaya, perekonomian, sosial, kurikulum pendidikan dan pembelajaran disamping
tugas saya membuat hasil penelitian sebagai hasil Internship atas program yang saya ikuti di NUS.
Unexpected
Journey
Seperti
film the hobbit, beberapa perjalanan yang sangat tidak dapat dibayangkan
terjadi saat saya menempuh pendidikan strata satu di Jawa Timur. Seperti
perjalanan saya sampai ke puncak Gunung Mahameru hingga pergi ke Universitas
nomor 1 di Asia tenggara. Untuk perjalanan ke NUS merupakan perjalanan minim
persiapan dan minim informasi. Dari rekan yang pernah pergi kesana telah
menyampaikan poin-poin penting untuk bisa melakukan penyesuaian bersosialisasi
oleh penduduk sana. Singkat cerita sampailah hari H pemberangkatan saya setelah
selesai semua perbengkalan. Untungnya Saudara saya membantu menemani hingga ke
negeri Singapure. Dari awal berfikir akan melakukan perjalanan sendiri dan
bertanya kesana-kesini sampai tiba ke tujuan namun karena dibantu oleh saudara
saya atas informasi yang diberikan sampailah saya datang dan tinggal selama dua
minggu seorang diri membaur dengan penduduk lokal yang kebanyakan
imigran dan sekaligus bergaul dengan mahasiswa-mahasiswi internasional yang
sedang menempuh program pelatihan penelitian dan mahasiswa dari NUS yang ikut
serta dan sebagai panitia penyelenggara.
Sehelai
kartu untuk semua
Setelah pemberitaan heboh akan adanya krisis ekonomi pada tahun 2013 yang pada saat itu Presiden Amerika masih dipimpin oleh Barack Obama, di tahun selanjutnya yaitu 2014 saya berkesempatan melihat bagaimana perokonomian maju di negara Singapura dan tranformasi keuangan digital yang sudah terjadi di negeri tersebut. Dari awal kedatangan dan menggunakan mass public transportation yang terkenal disana, saya sudah dikenalkan dengan sehelai kartu untuk semua akses. Ya benar-benar untuk ke semua. Anda bisa top-up dengan mesin didekat loket masuk kereta dan menggunakan kartu tersebut ke seluruh penjuru kota sebagai alat transaksi. Benar-benar sudah terintegrasi dan transformasi transaksi keuangan dapat dengan sehelai kartu. Dapat diketahui kartu tersebut ialah electronic-money sebagai pengganti uang cash pada umumnya. Dari pengalaman tersebut, setelah kembali ke Indonesia muncullah pikiran bahwa kapankah e-money di indonesia digunakan sampai saperti di negara maju sebagai alat transaksi pada umumnya. Pertanyaan tersebut terjawab sudah setelah beberapa tahun berikutnya setelah program-program pemerintah Indonesia maju dilaksanakan dan mulailah kartu e-money digunakan disetiap transaksi pada transportasi umum seperti kereta, busway, mrt hingga pembayaran parkir atau pembayaran-pembayaran berbelanja di mall-mall. Majunya teknologi dan informasi sejalan dengan kemajuan alat transaksi untuk memberikan kemudahan dalam menopang perekonomian agar dapat segera menyesuaikan dengan sistem-sistem perekonomian di negara maju.
Hingga
saat ini, tidak hanya e-money dan inovasi-inovasi financial technology yang
berlomba-lomba mendapatkan konsumen di pasar Indonesia. Dilansir dari Bank
Indonesia dari tahun 2023 telah di dukungnya sistem pembayaran dan transaksi
dengan menggunakan qr-code yang menjadikan kamera smartphone sebagai dompet
yang bisa dapat melakukan transaksi apapun. Dalam kesempatan kali ini tidak
membicarakan salah satu brand apapun namun melihat bagaimana secara
perlahan-lahan adanya perubahan yang semakin nyata dari transfomasi transaksi
keuangan yang ada di Indonesia menjadi keuangan digital. Mau tidak mau kita
harus dapat menyesuaikan, bukan hanya sebagai konsumen yang hanya menggunakan
namun dapat dengan bijak mengelola keuangan dan dapat menggunakan fasilitas
yang sebenarnya memudahkan untuk kehidupan sehari-hari dan dapat lebih optimal
mengatur keuangan pribadi masing-masing. Singkat kata untuk saat ini,
menggunakan kendaraan dan masuk ke dalam gedung komersil atau mall, kita harus
mempunyai kartu e-money sebagai alat pembayaran parkir, jika tidak punya maka siapkan
uang cash lebih untuk tambahan pembayaran parkir ke petugas yang membantu anda.
Sampai jumpa
Komentar
Posting Komentar